Haii teman-teman,,

kali ini saiia akan membahas Asi Ekslusif dan status gizi … para ibu” muda mungkin saiia akan memberikan sedikit info tentang asi dan gizi bayii andaa semoga bermanfaat.

lansung saja saiia akan membahasnya..

  1. Bayi

Bayi memerlukan zat gizi untuk dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Kebutuhan gizi bayi lebih sedikit dari kebutuhan orang dewasa, namun jika dibandingkan per unit berat badan maka kebutuhan gizi bayi jauh lebih besar dari usia perkembangan lain. Makanan bergizi menjadi kebutuhan utama bayi pada proses tumbuh kembangnya, sehingga kelengkapan unsur pada gizi hendaknya perlu diperhatikan dalam makanan sehari – hari yang dikonsumsi bayi (Sulistyoningsih, 2011).

  1. Berat Badan Bayi

1)      Pertumbuhan Berat Badan Setelah Lahir

a)      Pertumbuhan berat badan

Berat badan merupakan ukuran antropometri yang terpenting dan paling sering digunakan pada bayi. Pada masa bayi, berat badan dapat digunakan untuk melihat laju pertumbuhan fisik maupun status gizi. Pertumbuhan sebagai suatu peningkatan dalam ukuran fisik tubuh secara keseluruhan atau sebagai peningkatan dalam setiap bagiannya, berkaitan dengan suatu peningkatan dalam jumlah atau ukuran sel (Supariasa, 2002).

Kenaikan berat badan anak pada tahun pertama kehidupan, bila anak mendapat gizi yang baik adalah berkisar antara :

a))       700 – 1000 gram/ bulan pada triwulan I

b))      500 -600 gram/ bulan pada triwulan II

c))       350 – 450 gram/ bulan pada triwulan III

d))      250 – 350 gram/ bulan pada triwulan IV

b)   Perkembangan Bayi

Pertumbuhan dan perkembangan dipengaruhi oleh sejumlah faktor diantaranya adalah nutrisi yang tidak hanya pada pasca natal tetapi juga pada saat pra dan perinatal.

Bayi cukup bulan biasanya akan memiliki berat badan 2 kali berat badan lahir pada usia 4 sampai 5 bulan dan 3 kali lipat pada usia 1 tahun. Kebanyakan bayi baru lahir akan kehilangan 5 % sampai 10 % berat badannya selama beberapa hari pertama kehidupannya karena urine, tinja, dan cairan diekskresi melalui paru – paru dan karena asupan bayi sedikit. Bayi cukup bulan akan memperoleh berat badannya seperti semula dalam waktu 10 hari (Bobak, 2005).

2)         Cara Klasifikasi Berat badan

a)Berat badan menurut umur (BB/ U)

Bila berat badan yang tidak sesuai dengan umur, atau tidak ada kenaikan berat badan jangka waktu tertentu, bisa menjadi petunjuk adanya gangguan kesehatan.

b)   Panjang Badan Menurut Umur (PB/ U)

Pertambahan berat badan bayi juga diikuti dengan bertambahnya panjang badan, yang pertambahannya dari bulan ke bulan tidak selalu sama.

3)         Kebutuhan Nutrisi Bayi

a)   Kebutuhan Nutrisi Bayi

Jika produksi ASI cukup, maka pertumbuhan bayi untuk 4 – 5 bulan pertama akan memuaskan, pada umur 5 – 6 bulan berat badan bayi akan menjadi 2 kali lipat dari pada berat badan lahir. Maka sampai umur 6 bulan bayi tidak perlu member makanan tambahan pada bayi (Pudjiadi, 2000).

Adapun beberapa kebutuhan nutrisi yang diperlukan bayi yaitu :

(a)    Energi

Selama 4 bulan pertama, 50 % sampai 60% energi bayi dipakai untuk metabolism basal, 25 % sampai 40 % untuk pertumbuhan, sekitar 10 % sampai 15 % untuk aktifitas dan kebutuhan lainnya.

(b)   Karbohidrat

Laktosa merupakan jenis karbohidrat yang jumlahnya paling banyak dalam diet bayi sampai usia 6 bulan. Laktosa mengandung kalori dalam bentuk yang mudah diolah. Pemecahan dan absorbsinya yang lambat memudahkan penyerapan kalsium. Oleh karena itu, karbohidrat sekurang – kurangnya harus memenuhi 40 % sampai 45 % kebutuhan kalori di dalam makanan bayi baru lahir.

(c)    Lemak

Pada bayi, untuk memperoleh kalori yang adekuat dari susu ibu atau formula yang dikonsumsi dalam jumlah terbatas yang sejurang – kurangnya 50 % kalori harus berasal dari lemak. Lemak harus dicerna dengan mudah. Lemak pada susu ibu lebih mudah dicerna dan diabsorbsi daripada lemak di dalam susu sapi.

(d)   Protein

Kebutuhan protein selama 6 bulan pertama adalah 2,2 gram/ kilogram BB. Air susu ibu mengandung lebih banyak laktalbumin daripada kasein, tetapi laktalbumin lebih mudah dicerna daripada kasein. Selain itu, komposisi asam amino air susu ibu sangat sesuai untuk kemampuan metabolism bayi baru lahir.

(e)    Cairan

Kebutuhan cairan untuk bayi normal kira – kira 150 – 180 ml per kilogram BB per 24 jam. Cairan ini biasanya diperoleh dari ASI. Bayi yang meminum cairan dalam jumlah tersebut akan mengeluarkan urine sebesar kira – kira 100 ml per 24 jam

(f)    Mineral dan Vitamin

Kebanyakan mineral dan vitamin yang direkomendasikan terkandung dalam jumlah adekuat dalam ASI, bayi yang hanya disusui biasanya dapat mempertahankan kadar haemoglobin yang adekuat selama & bulan pertama kehidupannya (Bobak, 2005).

4)         Masalah Berat Badan bayi

a)Faktor yang mempengaruhi pertambahan berat badan kurang pada bayi yang minum ASI (Ramaiah, 2005), dapat disebabkan :

(a)    Tidak tepatnya perlekatan mulut bayi ke payudara.

(b)   Tidak membiarkan bayi menyusu selama yang diinginkannya atau hanya menyusu sebentar saja.

(c)    Menyusui pada waktu – waktu yang ditentukan daripada sesuai kebutuhan bayi.

(d)   Tidak mempertahankan posisi yang nyaman bagi bayi ketika menyusui.

(e)    Ibu mengalami stress, ketegangan, atau kekhawatiran.

(f)    Ibu tidak merasa percaya diri untuk mengeluarkan ASI yang cukup untuk bayi.

5)         Tanda Bayi Cukup ASI

a) Jumlah buang air kecilnya dalam satu hari  paling sedikit 6 kali

b) Warna air seni biasanya tidak berwarna kuning pucat

c) Bayi sering BAB berwarna kekuningan berbiji

d) Bayi kelihatan puas, sewaktu – waktu merasa lapar bangun dan tidur dengan cukup

e) Bayi paling sedikit menyusu 10 kali dalam 24 jam

f) Payudara ibu terasa lembut setiap kali selesai menyusui

g) Ibu dapat merasakan rasa geli karena aliran ASI setiap kali bayi menelan

h) Ibu dapat mendengarsuara menelan yang pelan ketika bayi menelan ASI

i)  Bayi bertambah berat badannya.

6) Tanda Bayi Tidak mendapatkan cukup ASI yaitu :

a)Pertambahan berat badan yang kurang

Selama beberapa hari pertama setelah persalinan, kebanyakan bayi kehilangan berat badan. Tetapi dapat memperoleh kembali berat badannya dalam waktu 2 minggu. Jika berat badan bayi lebih rendah dari berat badan lahir ketika berumur 2 minggu, dapat disimpulkan bahwa bayi tidak memperoleh cukup ASI. Apabila kenaikan berat badan bayi kurang dari 500 gram selama 6 bulan pertama, maka kebutuhan ASI tidak cukup.

b) Urine sedikit dan Berwarna Kuning Tua

Jika bayi buang air kecil kurang dari 6 kali sehari, atau urinnya berwarna kuning tua dengan bau yang tajam, maka ASI tidak cukup. Dapat disimpulkan bahwa bayi tidak memperoleh ASI, bila :

(a)       Tidak merasa puas setelah diberikan ASI, sering menangis

(b)      Ingin minum ASI dengan tenggang waktu kurang dari 2 jam

(c)       Minum ASI lebih lama dari biasanya, atau tidak mau

(d)      Tinjanya kering, keras, atau berwarna hijau

(e)       Buang air besar sedikit, kurang dari 2 kali sehari

  1. Air Susu Ibu(ASI)
    1. Pengertian

Menyusui adalah suatu proses alamiah yang besar artinya bagi kesejahteraan bayi, ibu, dan keluarga. Dengan menyusui, maka kesuburan ibu akan menurun, dan penurunan kesuburan ini dapat menghindari kehamilan berikutnya dalam interval waktu yang singkat, sehingga ibu dapat mencurahkan perhatian dan kasih sayang sepenuhnya bagi pertumbuhan bayinya, memberi kesempatan pada ibu untuk memulihkan kondisinya setelah kehamilan dan persalinan (Nindya, 2006).

Laktasi adalah sekresi air susu dari payudara, karena adanya pengaruh hormon estrogen, progesteron dan prolaktin selama kehamilan, dimana penyemprotan air susu dari puting payudara terjadi akibat pelepasan oksitosin dari hipofisis posterior sebagai respon terhadap hisapan pada puting payudara yang telah berada di bawah pengaruh prolaktin, oksitosin merangsang kontraksi otot polos duktus payudara dan menyebabkan keluarnya air susu, dimana oksitosin berada di bawah kontrol hipotalamus dan dipengaruhi oleh faktor emosi maupun fisik (Corwin, 2001).

Frekuensi menyusui merupakan berapa sering dan lama ibu saat menyusui bayinya dalam sehari semalam (Radjawane, 2006).

ASI adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktosa, dan garam organik yang disekresi oleh kedua belah kelenjar payudara ibu, sebagai makanan utama bagi bayi (Kristiyanasari, 2009).

ASI eksklusif adalah bayi hanya diberikan ASI saja selama 6 bulan, tanpa tambahan cairan lain seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, dan air putih, serta tanpa tambahan makanan padat seperti pisang, bubur susu, biskuit, bubur nasi, dan nasi tim.

  1. Manfaat ASI

1)      Bagi bayi

a)      Mengandung zat gizi yang sesuai bagi bayi

Zat gizi utama yang ada pada ASI diantaranya adalah:

(1)   Lemak

Lemak merupakan sumber kalori utaa bagi bayi, sebanyak 50% kalori ASI berasal dari lemak. Walaupun kadar emak ASI lebih tinggi namun lemak pada ASI mudah diserap oleh bayi dibandingkan susu formula. Lemak yang terdapat pada ASI terdiri dari kolesterol dan asam lemak essensial yang sangat penting untuk pertumbuhan otak.

(2)   Karbohidrat

ASI mengandung laktosa sebagai karbohidrat utama. Selain sebagai sumber kalori, laktosa juga berperan dalam meningkatkan penyerapan kalsium dan merangsang pertumbuhan laktobasilus bifidus yang berperan dalam menghambat pertumbuhan mikroorganisme di saluran pencernaan.

(3)   Protein

Protein pada ASI lebih baik daripada protein pada susu formula, karena protein yang terdapat pada ASI lebih mudah dicerna, selain itu ASI mengandung sistin dan taurin diperlukan untuk pertumbuhan otak.

(4)   Vitamin

ASI mengandung cukup vitamin yang dibutuhkan bayi, seperti Vitamin K, Vitamin D, dan Vitamin E.

b)      Mengandung zat protektif (kekebalan)

Bayi yang memperoleh ASI biasanya jarang mengalami sakit karena ASI mengandung zat protektif, diantaranya adalah: laktobasilus bifidus, laktoferin, antibodi, dan tidak menimbulkan alergi.

c)      Mempunyai efek psikologis

Kontak langsung antara ibu dan bayi ketika terjadi proses menyusui dapat menimbulkan efek psikologis sehingga membangun kedekatan ibu dan bayinya. Hal ini sangat penting untuk perkembangan psikis dan emosi bayi.

d)     Menyebabkan pertumbuhan yang baik

Bayi yang mendapatkan ASI akan mengalami peningkatan berat badan yang lebih signifikan dan mengurangi resiko obesitas.

e)      Mengurangi kejadian karies gigi

Kejadian karies gigi lebih banyak ditemukan pada bayi yang menggunakan susu formula. Hal ini disebabkan adanya kebiasaan menyusui dengan botol sebelum tidur akan menyebabkan kontak gigi dengan sisa susu formula menjadi lebih lama sehingga asam yang terbentuk akan menyebabkan kerusakan pada gigi.

f)       Membantu perkembangan rahang dan merangsang pertumbuhan gigi karena gerakan menghisap mulut bayi pada payudara.

2)      Bagi ibu

a)      Aspek kontrasepsi

Hisapan mulut bayi pada puting susu merangsang ujung saraf sensorik sehingga post anterior hipofise mengeluarkan prolaktin. Prolaktin masuk ke indung telur, menekan produksi estrogen akibatnya tidak ada ovulasi.

b)      Aspek kesehatan ibu

Isapan bayi pada payudara akan merangsang terbentuknya oksitosin oleh kelenjar hipofisis. Oksitosin membantu involusi uterus dan mencegah terjadinya perdarahan pasca persalinan. Mencegah kanker mamae pada ibu.

c)      Aspek penurunan berat badan

Ibu yang menyusui eksklusif ternyata lebih mudah dan lebih cepat kembali ke berat badan semula seperti sebelum hamil. Dengan menyusui, tubuh akan menghasilkan ASI lebih banyak lagi sehingga timbunan lemak yang berfungsi sebagai cadangan tenaga akan terpakai sehingga berat badan ibu akan cepat kembali ke keadaan seperti sebelum hamil.

d)     Aspek psikologis

Ibu akan merasa bangga dan diperlukan, rasa yang dibutuhkan oleh semua manusia.

3)      Bagi keluarga

a)      Aspek ekonomi

ASI tidak perlu dibeli, sehingga dana yang seharusnya digunakan untuk membeli susu formula dapat digunakan untuk keperluan lain. Bayi yang mendapatkan ASI juga jarang sakit sehingga mengurangi biaya berobat.

b)      Aspek psikologis

Kebahagiaan keluarga bertambah, karena kelahiran lebih jarang, sehingga suasana kejiwaan ibu baik dan dapat mendekatkan hubungan bayi dengan keluarga.

c)      Aspek kemudahan

Menyusui sangat praktis, karena dapat diberikan dimana saja dan kapan saja. Keluarga tidak perlu repot menyiapkan air masak, botol, dan dot yang harus dibersihkan serta minta pertolongan orang lain.

4)      Bagi Negara

a)      Menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi

Adanya faktor protektif dan nutrient yang sesuai dalam ASI menjamin status gizi baik serta kesakitan dan kematian anak menurun.

b)      Menghemat devisa Negara

ASI dapat dianggap sebagai kekayaan nasional. Jika semua ibu menyusui diperkirakan dapat menghemat devisa sebesar Rp. 8,6 milyar yang seharusnya dipakai untuk membeli susu formula.

c)      Mengurangi subsidi untuk rumah sakit

Subsidi untuk rumah sakit berkurang, karena rawat gabung akan memperpendek lama rawat ibu dan bayi, mengurangi komplikasi persalinan dan infeksi nosokomial serta mengurangi biaya yang diperlukan untuk perawatan anak sakit. Anak yang mendapat ASI lebih jarang dirawat di rumah sakit dibandingkan anak yang mendapatkan susu formula.

d)     Peningkatan kualitas generasi penerus

Anak yang mendapatkan ASI dapat tumbuh kembang secara optimal sehingga kualitas generasi penerus bangsa akan terjamin (Kristiyanasari, 2009).

  1. Proses terbentuknya ASI

Selama kehamilan, hormon prolaktin dari plasenta meningkat tetapi ASI biasanya belum keluar karena masih dihambat oleh kadar estrogen yang tinggi. Pada hari kedua atau ketiga pasca persalinan, kadar estrogen dan progesteron turun drastis, sehingga pengaruh prolaktin lebih dominan dan pada saat inilah terjadi sekresi ASI. Dengan menyusukan lebih dini terjadi perangsangan puting susu, terbentuklah prolaktin hiofisis, sehingga sekresi ASI semakin lancer. Dua refleks pada ibu yang sangat penting dalam proses laktasi, refleks prolaktin dan refleks aliran timbul akibat perangsangan puting susu oleh isapan bayi.

1)      Refleks prolaktin

Sewaktu bayi menyusu, jung saraf peraba yang terdapat pada puting susu terangsang. Rangsangan tersebut oleh serabut afferent dibawa ke hipotalamus di dasar otak, lalu memacu hipofise anterior untuk mengeluarkan hormon prolaktin ke dalam darah. Melalui sirkulasi prolaktin memacu sel kelenjar (alveoli) untuk memproduksi air susu. Jumlah prolaktin yang disekresi dan jumlah susu yang diproduksi berkaitan dengan stimulus isapan, yaitu frekuensi, intensitas dan lamanya bayi menghisap.

2)   Refleks aliran (let down refex)

Tanpa melihat apakah seorang ibu kelak akan menyusui bayinya atau tidak, buah dada ibu telah dipersiapkan untuk laktasi oleh hormon – hormon yang disekresi selama kehamilan. Selama kehamilan ini jumlah alveoli meningkat dan mengalami perubahan-perubahan guna mempersiapkan produksi ASI.

Agar ASI dapat dikeluarkan, diperlukan hormon oksitosin yang disekresikan oleh glandula pituitaria posterior atas rangsangan isapan bayi. Oksitosin ini menyebabkan jaringan muskuler sekeliling alveoli berkontraksi yang dengan demikian mendorong ASI menuju ductus. Proses ini disebut dengan let down reflex.

  1. Komposisi ASI

1)      Kolostrum

Disekresi oleh kelenjar mammae dari hari pertama sampai hari ketiga atau keempat dari masa laktasi. Kolostrum merupakan cairan kental yang ideal. Kolostrum merupakan suatu laksatif yang ideal untuk membersihkan mekoneum usus bayi yang baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan bayi untuk menerima makanan selanjutnya, mengandung kadar protein yang tinggi terutama gama globulin sehingga dapat memberikan perlindungan tubuh terhdap infeksi, serta mengandung zat antibodi sehingga mampu melindungi tubuh bayi dari berbagai penyakit infeksi.

2)      Air susu masa peralihan (masa transisi)

Merupakan ASI peralihan dari kolostrum menjadi ASI matur. Disekresi dari hari ke 4 sampai dengan hari ke 10 dari masa laktasi.

3)      Air susu matur

ASI yang disekresi pada hari ke 10 dan seterusnya. Merupakan makanan yang dianggap aman bagi bayi (Kristiyanasari, 2009).

  1. Volume Produksi ASI

Pada bulan – bulan terakhir kehamilan sering ada sekresi kolostrum pada payudara ibu hamil. Setelah persalinan apabila bayi mulai mengisap payudara, maka produksi ASI bertambah secara cepat. Dalam kondisi normal ASI diproduksi sebanyak 10 – 100 cc pada hari pertama. Produksi ASI menjadi konstan setelah hari ke 10 – 14. Rata- rata ibu menyusui menghasilkan 700 – 800 ml susu perhari pada 6 bulan pertama dan sekitar 600 ml perhari pada 6 bulan kedua (Atikah dan  Asfuah, 2009).

  1. Faktor – faktor yang Mempengaruhi Produksi ASI

1)      Frekuensi penyusuan

Produksi ASI akan optimal jika ASI dipompa lebih dari 5 kali perhari selama bulan pertama setelah melahirkan. Frekuensi penyusuan paling sedikit 8 kali per hari pada periode awal setelah melahirkan. Frekuensi menyusui ini berkaitan dengan kemampuan stimulasi hormone dalam kelenjar payudara.

2)      Berat lahir

Bayi berat lahir rendah (BBLR) mempunyai kemampuan menghisap ASI yang lebih rendah dibanding bayi yang lahir normal (>2500 gram). Kemampuan menghisap yang lebih rendah ini meliputi frekuensi dan lama penyusuan yang lebih rendah dibanding bayi berat lahir normal yang akan mempengaruhi stimulasi hormon prolaktin dan oksitosin dalam memproduksi ASI.

3)      Umur kehamilan saat melahirkan

Umur kehamilan dan berat lahir mempengaruhi intake ASI. Hal ini disebabkan bayi yang lahir premature (umur kehamilan kurang dari 34 minggu) sangat lemah dan tidak mampu menghisap secara efektif sehingga produksi ASI lebih rendah daripada bayi yang lahir tidak prematur.

4)      Umur dan paritas

Umur dan paritas kecil hubungannya dengan produksi ASI. Hal ini karena pemenuhan gizi bayi dan ibu setiap orang berbeda – beda.

5)      Stres dan penyakit akut

Ibu yang cemas dan stres dapat mengganggu laktasi sehingga mempengaruhi produksi ASI karena menghambat pengeluaran ASI. Pengeluaran ASI akan berlangsung bai pada ibu yang merasa rileks dan nyaman.

6)      Konsumsi rokok

Merokok dapat mengurangi volume ASI karena akan menggangu hormon prolaktin dan oksitosin untuk produksi ASI. Merokok akan menstimulasi pelepasan adrenalin dimana adrenalin akan menghambat pelepasan oksitosin.

7)      Konsumsi alkohol

Meskipun minuman alcohol dosis rendah disatu sisi dapat membuat ibu merasa lebih rileks sehingga membantu proses pengeluaran ASI namun disisi lain etanol dapat menghambat produksi oksitosin.

8)      Pil kontrasepsi

Penggunaan pil kontrasepsi kombinasi estrogen dan progestin berkaitan dengan penurunan volume dan durasi ASI, sebaliknya bila pil hanya mengandung progestin maka tidak ada dampak terhadap volume ASI (Proverawati dan asfuah, 2009).

  1. Manajemen Laktasi

Manajemen laktasi adalah upaya – upaya yang dilakukan untuk menunjang keberhasilan menyusui. Dalam pelaksanaannya terutama dimulai pada masa kehamilan, segera setelah persalinan dan pada masa menyusui selanjutnya. Adapun upaya-upaya yang dilakukan sebagai berikut :

1)      Pada masa kehamilan (antenatal)

a)   Memberikan penerangan dan penyuluhan tentang manfaat dan keunggulan ASI, manfaat menyusui baik bagi ibu maupun bayinya, disamping bahaya pemberian susu botol.

b)   Pemeriksaan kesehatan, kehamilan dan payudara / keadaan puting susu, apakah ada kelainan atau tidak. Di samping itu perlu dipantau ada kenaikan berat badan ibu hamil.

c)   Perawatan payudara mulai usia kehamilan 6 bulan agar ibu mampu memproduksi dan memberikan ASI yang cukup.

d)  Memperhatikan gizi/ makanan ditambah mulai dari kehamilan trisemester kedua sebanyak 1/ 3 kali dari makanan pada saat sebelum hamil.

e)   Menciptakan suasana keluarga yang menyenangkan. Dalam hal ini diperlukan keluarga, terutama suami kepada istri yang sedang hamil untuk memberikan dukungan dan membesarkan hatinya

2)      Pada masa segera setelah persalinan (prenatal)

a)   Ibu dibantu menyusui 30 menit setelah kelahiran dan ditunjukkan cara menyusui yang baik dan benar, yaitu tentang posisi dan cara melekatkan bayi pada payudara ibu.

b)   Membantu terjadinya kontak langsung antara ibu dan bayi selama 24 jam.

c)   Ibu nifas diberikan kapsul vitamin A dosis tinggi (200.000 IU) dalam waktu 2 minggu setelah melahirkan.

3)      Pada masa menyusui selanjutnya (postnatal)

a)   Menyusui dilanjutkan secara eksklusif selama 6 bulan pertama usia Bayi.

b)   Perhatikan gizi / makanan ini menyusui, perlu makanan 1 ½ kali   lebih banyak dari biasa dan minum 8 gelas / hari.

c)   Ibu menyusui harus istirahat dan menjaga ketenangan pikiran dan menghindarkan kelelahan yang berlebihan agar produksi ASI tidak terhambat.

d)  Perhatian dan dukungan keluarga penting terutama suami untuk menunjang keberhasilan menyusui.

e)   Rujuk ke Posyandu atau Puskesmas atau petugas kesehatan apabila ada permasalahan menyusui seperti payudara bengkak disertai demam.

f)    Menghubungi kelompok pendukung ASI terdekat untuk meminta pengalaman dari ibu-ibu lain yang sukses menyusui bayi mereka.

g)   Memperhatikan gizi / makanan anak, terutama mulai 6 bulan, berikan MP ASI yang cukup baik kuantitas maupun kualitas.

  1. Cara Pemberian ASI

Cuci tangan yang bersih dengan sabun, perah sedikit ASI dan oleskan di sekitar puting, duduk dan berbaring dengan santai. Bayi diletakkan menghadap ke ibu dengan posisi sanggah seluruh tubuh bayi, jangan hnya leher dan bahunya saja, kepala dan tubuh bayi lurus, hadapkan bayi ke dada ibu, sehingga hidung bayi berhadapan dengan puting susu, dekatkan badan bayi ke badan ibu, menyentuh bibir bayi ke puting susunya dan menunggu sampai mulut bayi terbuka lebar. Segera dekatkan bayi ke payudara sedemikian rupa sehingga bibir bawah bayi terletak di bawah puting susu. Cara melekatkan mulut bayi dengan benar yaitu dagu menempel pada payudara ibu, mulut bayi terbuka lebar dan bibir bawah bayi membuka lebar.

  1. Lama dan Frekuensi Menyusui

Sebaiknya dalam menyusui bayi tidak dijadwal, sehingga tindakan menyusui bayi dilakukan di etiap saat bayi membutuhkan, karena bayi akan menentukan sendiri kebutuhannya. Ibu harus menyusui bayinya bila bayi menangis bukan karena sebab lain (kencing, kepanasan/ kedinginan) atau ibu sudah merasa perlu menyusui bayinya. Bayi yang sehat dapat mengosongkan satu payudara sekitar 5 – 7 menit dan ASI dalam lambung bayi akan kosong dalam waktu 2 jam. Pada awalnya, bayi tidak memiliki pola yang teratur dalam menyusui dan akan mempunyai pola tertentu setelah 1 – 2 minggu kemudian.

  1. Status Gizi
    1. Pengertian

Gizi adalah makanan yang dapat memenuhi kesehatan. Zat gizi adalah unsur yang terdapat dalam makanan dan dapat mempengaruhi kesehatan. Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absorpsi, transportasi, penyimpanan, metabolism dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ serta menghasilkan energi (Waryana, 2010).

Status gizi adalah keadaan tubuh yang merupakan hasil akhir dari keseimbangan antara zat gizi yang masuk ke dalam tubuh dan utilisasinya (Waryana, 2010).

  1. Faktor – faktor yang mempengaruhi status gizi

1)      Penyebab langsung yaitu makanan anak dan penyakit infeksi yang mungkin diderita anak.

2)      Penyebab tidak langsung yaitu ketahanan pangan di keluarga, pola pengasuhan anak, serta pelayanan kesehatan ingkungan. Ketahanan pangan adalah kemampuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan pangan seluruh anggota keluarga dalam jumlah yang cukup dan baik mutunya. Pola pengasuhan anak adalah kemampuan keluarga untuk menyediakan waktunya, perhatian dan dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal baik fisik, mental, dan sosial. Pelayanan kesehatan dan sanitasi lingkungan adalah tersedianya air besih dan sarana pelayanan kesehatan dasar yang terjangkau oleh seluruh keluarga (Waryana, 2010).

  1. Penilaian Status gizi

1)      Penilaian Status Gizi Secara Langsung

Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi 4 penilaian (Supariasa, 2002), yaitu :

a)      Antropometri

Antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Antropometri secara umum digunakan untuk melihat ketidakseimbangan asupan protein dan energi. Ketidakseimbangan ini terlihat pada pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh.

b)      Klinis

Pemeriksaan klinis adalah metode yang sangat penting untuk melihat status gizi masyarakat. Metode ini didasarkan atas perubahan – perubahan yang terjadi, yang dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi. Penggunaan metode ini umumnya untuk survei klinis (rapid clinical surveys). Survei ini dirancang untuk mendeteksi secara tepat tanda – tanda klinis umum dari kekurangan salah satu atau lebih zat gizi, dapat juga digunakan untuk mengetahui tingkat status gizi seseorang dengan melakukan pemeriksaan fisik yaitu tanda (sign) dan gejala (symptom) atau riwayat penyakit.

c)      Biokimia

Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan specimen yang diuji secara laboratories yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. Jaringan tubuh yang digunakan antara lain : darah, urine, tinja, dan juga beberapa jaringan tubuh seperti hati dan otot. Metode ini digunakan untuk suatu peringatan bahwa kemungkinan akan terjadi keadaan malnutrisi yang akan lebih parah. Banyak gejala klinis yang kurang spesifik, maka penentuan kimia faal dapat lebih banyak menolong untuk menentukan kekurangan gizi yang spesifik.

d)     Biofisik

Penentuan status gizi secara biofisik adalah metode penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan) dan melihat perubahan struktur dari jaringan.

2)      Penilaian Status Gizi secara Tidak Langsung

Penilaian status gizi secara tidak langsung dapat dibagi menjadi tiga (Supariasa, 2002), yaitu :

a)      Survei konsumsi makanan

Survei konsumsi makanan adalah metode penentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang dikonsumsi. Pengumpulan data konsumsi makanan dapat memberikan gambaran tentang konsumsi berbagai zat gizi pada masyarakat, keluarga dan individu. Survei ini dapat mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan gizi.

b)      Statistik Vital

Pengukuran status gizi dengan manganalisis data berbagai statistik kesehatan seperti angka kematian berdasarkan umur, angka kesakitan, dan kematian akibat penyebab tertentu dan data lainnya yang berhubungan dengan gizi.

c)      Faktor Ekologi

Malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil interaksi beberapa faktor fisik, biologis, dan lingkungan budaya. Pengukuran faktor ekologi sangat penting untuk mengetahui penyebab malnutrisi masyarakat sebagai dasar untuk melakukan program intervensi gizi.

  1. Klasifikasi Status Gizi

Indikator antropometri atau indeks antropometri yang umum digunakan untuk menilai status gizi adalah :

1)      Indeks Berat Badan terhadap Umur (BB/ U)

Berat badan adalah salah satu parameter yang memberikan gambaran massa tubuh. Dalam keadan normal, dimana kesehatan baik dan keseimbangan antara konsumsi dan kebutuhan zat gizi terjamin, maka berat badan berkembang mengikuti pertambahan umur. Sebaliknya dalam keadaan yang abnormal, terdapat 2 kemungkinan perkembangan berat badan, yaitu dapat berkembang cepat atau lebih lambat dari keadaan normal. Indeks berat badan menurut umur lebih menggambarkan status gizi seseorang saat ini.

Table 2.1 Penilaian Status Gizi Bayi Perempuan Usia 6 – 12 bulan Menurut Berat Badan Dan Umur (BB/  U)

Bayi Perempuan

Umur (bulan)

Gizi Buruk

(kg)

Gizi Kurang

(kg)

Gizi Baik

(kg)

Gizi Lebih

(kg)

6

4,5

4,6 – 5,4

5,5 – 8,9

9,0

7

4,9

5,0 – 5,8

5,9 – 9,5

9,6

8

5,3

5,4 – 6,2

6,3 – 10,0

10,1

9

5,6

5,7 – 6,5

6,6 – 10,4

10,5

10

5,8

5,9 – 6,8

6,9 – 10,8

10,9

11

6,1

6,2 – 7,1

7,2 – 11,2

11,3

12

6,3

6,4 – 7,3

7,4 – 12,5

11,6

Table 2.2 Penilaian Status Gizi Bayi Laki – laki Usia 6 – 12 bulan

Menurut Berat Badan Dan Umur(BB/ U)

Bayi Laki – laki

Umur (bulan)

Gizi Buruk

(kg)

Gizi Kurang

(kg)

Gizi Baik

(kg)

Gizi Lebih

(kg)

6

4,8

4,9 – 5,8

5,9 – 9,7

9,8

7

5,3

5,4 – 6,3

6,4 – 10,2

10,3

8

5,8

5,9 – 6,8

6,9 – 10,7

10,8

9

6,2

6,3 – 7,1

7,2 – 11,2

11,3

10

6,5

6,6 – 7,5

7,6 – 11,6

11,7

11

6,8

6,9 – 7,8

7,9 – 11,9

12,0

12

7,0

7,1 – 8,0

8,1 – 12,3

12,4

Sumber : Depkes RI, 2002.

2)      Tinggi Badan Terhadap Umur (TB/ U)

Indeks tinggi badan menurut umur adalah pertumbuhan linear, merupakan indikator yang baik untuk menilai intervensi harus disertai dengan indikator yang lain seperti berat badan terhadap umur, karena tinggi badan tidak banyak terjadi pada waktu dini.

3)      Indeks Berat Badan Terhadap Tinggi Badan

Indeks berat badan terhadap tinggi badan digunakan bila ada hambatan dalam menentukan umur, BB, TB, lebih menggambarkan keadaan kurang gizi akut pada waktu lampau.

4)      Indikator Lingkar Lengan Atas

Lingkar lengan atas memberikan gambaran tentang keadaan jaringan otot dan lapisan lemak dibawah kulit. Lingkar lengan atas berkorelasi dengan indeks BB/ U maupun BB/ TB.

5)      Indeks Massa Tubuh (IMT)

IMT merupakan alat yang sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan.

  1. Prinsi Gizi bagi Bayi

Kebutuhan gizi bagi bayi berbeda dengan kebutuhan anak dan dewasa. Bayi membutuhkan karbohidrat dengan bantuan amilase untuk mencerna bahan makanan. Protein yang diperlukan berasal dari ASI ibu yaitu dengan kadar 4 – 5% dari total kadar kalori dalam ASI. Lemak yang diperlukan 58% dari kalori total dalam susu matur. Mineral yang dibutuhkan pada masa ini terdiri dari kalsium, pospor, kalium, dan natrium yang menunjang pertumbuhan dan perkembangan si bayi. Sedangkan untuk vitamin bervariasi sesuai dengan diet ibu. Setelah umur 6 bulan, setiap bayi membutuhkan makanan lunak yang bergizi yang sering disebut Makanan Pendamping ASI (MP – ASI). MP – ASI merupakan makanan peralihan dari ASI ke makanan keluarga. Pengenalan dan pemberian MP – ASI harus dilakukan secara bertahap baik bentuk maupun jumlahnya, sesuai dengan kemampuan pencernaan bayi (Proverawati dan Asfuah, 2009).

  1. Macam – macam Makanan Bayi

Untuk bayi berumur 0 – 6 bulan tidak perlu makanan lain, kecuali ASI (ASI Eksklusif). Pada masa itu saluran pencernaan bayi masih peka, sehingga hanya ASI yang mampu dicerna dan diserap usus. Setelah bayi berumur 6 bulan, maka untuk memenuhi kebutuhan selanjutnya demi pertumbuhan dan perkembangannya diperlukan makanan pendamping ASI (MP – ASI) (Waryana, 2010).

  1. Hubungan ASI Eksklusif Dengan Status Gizi Bayi

Berdasarkan penjabaran tinjauan pustaka di atas dapat dikatakan bahwa dengan pemberian ASI karena adanya faktor protektif dan nutrien yang sesuai dalam ASI menjamin status gizi bayi baik serta kesakitan dan kematian anak menurun (Kristiyanasari, 2009).

Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan terbaik untuk bayi. ASI sangat dibutuhkan untuk kesehatan bayi dan mendukung pertumbuhan dan perkembangan bayi secara optimal. Bayi yang mendapatkan ASI eksklusif akan memperoleh semua kelebihan ASI serta terpenuhi kebutuhan gizinya secara maksimal sehingga dia akan lebih sehat, lebih tahan terhadap infeksi, tidak mudah terkena alergi, dan lebih jarang sakit. Sebagai hasilnya, bayi yang mendapatka ASI secara eksklusif akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. Pertumbuhan dapat dilihat dari penambahan berat badan, tinggi badan, ataupun lingkar kepala, sedangkan perkembangan yang optimal dapat dilihat dari adanya peningkatan kemampuan motorik, psikomotorik dan bahasa (Sulistyoningsih, 2011).

Berat badan bayi yang mendapat ASI eksklusif meningkat lebih lambat dibanding bayi yang mendapat susu formula (MPASI). Hal ini tidak berarti bahwa berat badan yang lebih besar pada bayi yang mendapat susu formula lebih baik dibanding bayi yang mendapat ASI. Berat badan berlebih pada bayi yang mendapat susu formula justru menandakan terjadinya kegemukan (obesitas). Karena dengan pemberian ASI eksklusif status gizi bayi akan  baik dan mencapai pertumbuhan yang sesuai dengan usianya (Hariyani, 2011).